Jump High!: Tokyo Dome (2014)

Jump High!: Tokyo Dome (2014)
Jump High! Tokyo Dome - Japan (2014)
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2015

Kepingan Terakhir

Image Source
Maka, ini yang dinamakan kepingan terakhir
Menjadi penutup sebuah scene kehidupan
Memberikan gambar yang jelas
Bahwa hidup, tak hanya menyajikan suguhan kebahagiaan di atas meja
Tapi juga sebuah kenaifan

Hidup ini naïf, ya, cukup naïf bila dikatakan semuanya baik
Potongan itu juga jelas menggambarkan
Bahwa hidup, juga diisi dengan kemunafikan

Yang diisi oleh orang-orang sok suci
Padahal hati mereka tak lebih busuk dari sampah jalanan

Maka, hari ini adalah hari
Dimana dendam mulai membatu
Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati
Mengeras bagai batu

Tak peduli suguhan apa yang harus ditenggak
Selama hati ini masih berada dikepan-Nya
Pundak ini akan terus menopang kokoh

Meskipun yang ditopang adalah sebuah kenaifan dan kemunafikan

Kamis, 13 Agustus 2015

Meniti Titik

Image source
“Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards.”

Demikian yang dikatakan seorang inovator kenamaan – Steve Jobs – dalam sebuah graduation speech yang dipersembahkan untuk para lulusan kampus Stanford, Amerika Serikat.

Seringkali kita bertanya atas sebuah pertanyaan filosofis di dalam sebuah penggalan episode hidup kita, “sedang berada di mana saya?”, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “akan kemana saya?”. Pun ketika sedang berdiri di persimpangan jalan, memilih akan beranjak ke kanan atau melangkah ke kiri, segala perhitungan dibuat, analisis cost-benefit, opportunity cost yang harus diterima, plus dicampur dengan emosi yang secara tak sadar terlibat di sana, dihitung matang-matang untuk kemudian menjadi sebuah keputusan.

Senin, 20 April 2015

Tatkala Harus Diam

Tatkala harus berdiam diri,
di tengah mendung bisu yang terus mengebiri

Tatkala belum saatnya ada wakil-Mu di dunia ini untuk menyandarkan pundak untuk sejenak

Dan jika memang Engkau satu-satunya yang patut mengetahui
Perasaan ini..
Lelah ini..
Dan tentang harap yang tengah berkepompong..

Izinkan diriku untuk bisa memaknai setiap momen berdua dengan-Mu
Izinkan diriku untuk memahami, bahwa memang Kau lah sepatut-patutnya tempat bersandar

Izinkan diriku untuk menangis dihadapan-Mu..
Bercerita dihadapan-Mu..
Berharap dihadapan-Mu..

Dan izinkan diriku untuk terus mengazzamkan kalimat ini..

Hasbunallah wa ni'mal wakiil (Ali 'imran: 173)
Ni'mal maulaa wa ni'mannashshiir (Al Anfal: 40)

Cukuplah Allah menjadi pelindung, Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong

Jakarta
Bulan Rajab
Menjelang Maghrib

Rabu, 15 April 2015

Sebuah Kutipan

Serangkaian peristiwa beberapa saat terakhir membawa kembali saya pada kutipan ini, yang sempat saya sisipkan pada penutup laporan pertanggungjawaban saya untuk sebuah organisasi 2 tahun lalu,

oleh anonim

Allah mempertemukan untuk satu alasan.
Entah untuk belajar atau mengajarkan.
Entah hanya sesaat atau selamanya.
Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.

Akan tetapi tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut.
Lakukan dengan tulus.
Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan.
Tidak ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan.:)

Terima kasih pada yang telah mengajarkan dan diajarkan. Kepada yang mampir sesaat atau masih bertahan. Kepada yang telah menjadi bagian penting atau hanya sekedarnya. Insya Allah tiada yang sia-sia, karena Dia lah sesungguhnya sebaik-baiknya penulis skenario kehidupan :)


Bagian selatan Jakarta, malam hari.

Selasa, 06 Januari 2015

#JTS 3: Islam di Ujung Timur Dunia

Starting is always the hardest point. Gak kerasa udah hampir sebulan lebih banyak tersita waktu untuk melakukan hal ini itu di kampus: tugas, UAS, organisasi, proposal skripsi, etc. Hampir sebulan itu juga nggak sempet posting, dan rasanya memang memulai kembali dari awal rasanya berat. Tapi, menulis itu rasanya cukup bisa menghilangkan stres bagaimana pun kondisi kita :)

Oke, saya mau lanjut cerita #JTS saya ketika Juni tahun lalu ke Tokyo. Kebetulan ada pengalaman cukup unik ketika itu. Bertepatan dengan hari Jumat, sebagai muslim tentu sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan sholat Jumat di Masjid. Tapi di negara dengan Islam sebagai penduduk yang sangat minoritas di sini, how can we find a mosque here? Awalnya kami berniat untuk sholat zuhur biasa saja, karena tempat yang tidak memungkinkan. Tapi setelah iseng searching di googlemaps dengan kata kunci ‘mosque’, ternyata tak berbeda beberapa blok dari penginapan kami terdapat Islamic Center. Ya, “Assalam Islamic Center” bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja dari penginapan kami. Hostel kami tepat berada di daerah Ueno, sebuah distrik yang berada di pinggiran Tokyo, meskipun masih termasuk dalam kota tapi cukup tenang dan hanya 10 menit jalan kaki ke Akihabara. I’m surely recommended that place! *jadi promosi :D*

Rabu, 08 Oktober 2014

Stay Foolish, Stay Positive

Materi ngelingker pekanan saya dua minggu terakhir menurut saya cukup unik; membahas bagaimana bisa membentuk pikiran, atau bagaimana pikiran manusia bisa terbentuk. Kebetulan, saya akhir-akhir ini suka merenung sendiri, kenapa ya setiap manusia mempunyai karakter yang bermacam-macam? Padahal dilihat dari fisik, semua terlihat hampir sama. Punya anggota badan, indera, dan lain-lain. Lalu kenapa watak manusia bermacam-macam?

Dikatakan bahwa ternyata, proses pembentukan watak atau karakter manusia itu melalui proses smooth yang begitu lama. Siapa yang turut andil membentuknya? bisa lingkungan sekitar kita, keluarga kita, peer group kita, yang tanpa sadar membentuk perlahan karakter kita sekarang ini. Apabila anda merasa orang yang keras, ya mungkin lingkungan anda yang membentuknya. Apabila sebaliknya, lingkungan anda juga yang menciptakan anda menjadi orang yang lemah lembut tanpa anda sadari. Semua itulah yang tanpa sadar membentuk kita. Coba renungkan, mengapa kita sekarang bisa mengatakan diri kita begini dan apa saja masa lalu yang telah kita lalui. Saya yakin 99% kita bisa menemukan hubungan keduanya :)

Minggu, 23 Februari 2014

"Kurikulum 'Berpikir' 2013" - Rhenald Kasali

Tulisan Rhenald Kasali ini sudah sekitar satu tahun lalu dipublikasikan, tapi (tentu) masih relevan sampai saat iniSemoga bermanfaat.

Oleh Rhenald Kasali
Di banyak negara, saya sering menyaksikan siswa sekolah atau mahasiswa yang aktif berdiskusi dengan guru atau dosennya. Persis seperti yang dulu sering kita lihat dalam iklan margarin pada tahun 1980-an, atau gairah siswa Wellesley College yang kita lihat dalam film Monalisa Smile.

Sewaktu mengajar di University of Illinois, saya kerap berhadapan dengan anak-anak seperti itu. Karena materi yang harus diajarkan begitu banyak, saya menjawab seperti kebiasaan guru di sini. ”Sebentar ya. Biar saya selesaikan dulu.” Namun, anak-anak itu tetap tak mau menurunkan tangannya sebelum dilayani berdiskusi.

Sabtu, 15 Februari 2014

Sudah Selesai kah Kita dengan Diri Kita?


"Sebaik-baik pemimpin, dialah yang telah selesai dengan urusan pribadinya."

Kalimat diatas mungkin seringkali terdengar di telinga kita. Jadi pemimpin yang baik itu harus sudah selesai dengan urusan pribadinya. Agar ketika memimpin nanti, tak perlu lagi ia mengurusi hal-hal pribadinya. Dan memang benar adanya. Apa jadinya ketika seorang pemimpin masih belum bisa mengurus dirinya? Simpel saja, bangun kesiangan? Hati galau gundah gulana? Akademik berantakan? Masa depan belum terencana? 

Lalu bagaimana bisa ia memimpin dengan baik kalau dirinya sendiri pun belum beres?

Minggu, 02 Februari 2014

Enam Perkara

Post ini diambil dari koran Republika, 30 Januari 2014

Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Asqalani dalam karyanya Nashaihul 'Ibad (Hal 42) mengutip sebuah hadis tentang keanehan yang akan menimpa umat Islam. Menurut Rasulullah SAW, jumlahnya ada enam perkara.

Pertama, masjid menjadi bangunan yang aneh. Bangunan masjid berdiri megah, dibangun di tengah-tengah perkampungan penduduknya. Namun, para penduduk di perkampungan tersebut enggan untuk mendatangi masjid tersebut.

Kedua, mushaf Alquran menjadi sebuah perkara aneh. Orang-orang berlomba-lomba mengoleksi Alquran di rumahnya. Mereka membeli Alquran dengan model terbaru, berharga mahal, namun setelah di rumah, Alquran hanya menjadi simbol kebanggaan. Alquran hanya menjadi pajangan, jarang dibaca, apalagi untuk memahami maknanya.

Ketiga, banyak orang berlomba-lomba menghafal Alquran, tapi sedikit sekali orang yang berlomba-lomba mengamalkan isi dan kandungannya.

Keempat, banyak wanita salihah yang menikahi laki-laki yang tidak taat dalam melaksanakan ajaran agama.

Kelima, banyak laki-laki saleh yang beristri wanita yang tidak taat beragama.

Keenam, aneh sekali, orang alim (yang memahami ilmu agama) berada di tengah-tengah masyarakat, namun masyarakat sudah tidak mau lagi mendengar fatwa-fatwanya.

Sementara Imam Ghazali dalam karyanya Minhajul 'Abidin mengutip sabda Rasulullah yang disampaikan kepada Haris Ibnu Umairah.

"Jika umurmu panjang, kamu akan menghadapi suatu zaman yang aneh. Pada zaman itu akan banyak ahli pidato yang piawai dalam menyampaikan pidatonya, namun sangat sedikit sekali dari kalangan mereka yang benar-benar ulama (memahami ilmu agama dan hatinya takut pada Allah). Pada zaman tersebut akan banyak sekali orang yang memerlukan bantuan (banyak orang miskin), namun sangat sedikit sekali orang yang mau menolong mereka, dan pada zaman tersebut keikhlasan mencari ilmu sudah sirna. Orang-orang mencari ilmu hanya mengikuti keinginan hawa nafsu belaka."

Haris Ibnu 'Umairah merasa heran, kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, kapan hal tersebut akan terjadi?" Kemudian Rasulullah menjawab, "Nanti apabila ibadah shalat telah dimatikan (orang-orang tidak mengaplikasikan nilai-nilai ibadah shalat dalam kehidupan sehari-hari), menjamurnya suap-menyuap (jual beli hukum dan jabatan), serta orang-orang telah rela menjual agama demi kesenangan hidup di dunia semata. Jika keadaan tersebut sudah terjadi, maka selamatkanlah dirimu."

Semoga bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua. Sudahkah ini terjadi di lingkungan sekitar kita?


Sabtu, 01 Februari 2014

Cerita Gerbong: Bahasa tanpa Kata

Sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya sekitar awal bulan Januari, saya bersama teman-teman kuliah saya mendapat kesempatan untuk melancong ke kotanya Sri Sultan Hamengkubuwono X, Jogjakarta. Travelling kali ini memang sengaja dibuat sama temen-temen untuk refreshing dan menjadi semacam "perpisahan" kita setelah kepengurusan satu tahun di BEM FEUI. Yap, kami sempat bersama selama satu tahun ketika menjabat sebagai bph pada tahun 2013 lalu, jadi gak sah kalo berpisah tanpa perpisahan hehe. Awalnya saya kira rencana ini cuma jadi wacana, tak disangka kami ber-25 jadi juga melancong ke Jogja! :)

Kami berangkat ke Jogja berangkat menggunakan kereta ekonomi AC, begitu juga nanti ketika pulangnya. Ala "backpacker", ceritanya, tapi kami malah mengalami sedikit kehebohan ketika sudah memasuki gerbong kereta. Nomer tempat duduk di tiket kami mengacak, bercampur baru dengan penumpang yang lain, bahkan ada yang terpisah di gerbong lain. Maka ekspektasi kami pun sedikit meleset, yang awalnya ingin barengan ketika perjalanan, harus siap berbagi kursi dengan penumpang yang lain. Ditambah lagi kursi kereta ekonomi AC yang saling berhadap-hadapan. Masih untung ada yang berdua atau bertiga, tapi ada teman saya, Adan dan Danang, mereka harus terpisah sendiri di tempat mereka masing-masing dan bergabung dengan sebuah keluarga yang tidak mereka kenal. Bersiap untuk 12 jam awkward momment, selamat menggunakan skill bersosialisasi! :D

Sementara saya sendiri berhadapan dengan dua orang, yang awalnya saya kira pasangan suami istri, ternyata setelah saya perhatikan lebih lanjut ternyata bukan. Disebelah kanan saya kosong, mungkin tempat duduk itu sebenarnya untuk teman saya yang tidak jadi ikut ke Jogja, makanya tidak ada yang menempati. Setelah kereta mulai berjalan, akhirnya Danang pindah tempat duduk di sebelah saya, mungkin takut diadopsi sama keluarga yang duduk bareng sama dia ya, haha.

****

Sempat saya perhatikan dua orang di depan saya, seorang ibu dan seorang bapak, mereka bukan pasangan suami istri. Mereka juga seperti kami, harus berbaur dan berbagi dengan orang yang baru ditemui di atas gerbong. Si Bapak terlihat cuek, dan tidak terlalu peduli dengan orang yang ada dihadapannya dan disebelahnya. Sementara ibu yang ada di depan saya terlihat lebih ramah dan lebih senang mengajak bicara orang yang ada disekitarnya. Terkadang ibu tersebut menawarkan permen ke kami, terkadang pula dia sering menggunakan hpnya untuk menghubungi seseorang (mungkin keluarganya), dengan bahasa isyarat. Belum pernah sebelumnya saya bertemu langsung dengan orang yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat lewat hp, jadi cukup menyita perhatian saya ke ibu itu.

Selama perjalanan, saya tidak terlalu tertarik untuk mengajak ngobrol ibu dan bapak yang ada di depan saya. Beberapa jam di awal saya habiskan dengan tidur. Bangun-bangun, kanan kiri saya sudah ada hamparan sawah membentang. Lumayan, pemandangan bagus setelah terbangun dari tidur :). Mungkin, melihat saya yang sudah bangun dan sedang tidak ada kerjaan, si ibu yang ada di depan saya mengajak ngobrol saya, dengan bahasa isyarat. Awalnya saya pikir ibu itu memiliki saudara yang mengalami keterbatasan dalam pendengaran, tapi menyadari saya diajak berbicara dengan bahasa isyarat, saya baru sadar ibu itu yang menderita tuna wicara. Entah, beliau mengalami tuna rungu juga atau tidak, karena setau saya kalau orang yang mengalami tunga rungu sejak lama, secara otomatis dia mengalami tuna wicara juga *CMIIW*.

Oke, saya pun diajak bicara sama beliau. Perlahan mencoba memahami apa yang ia maksud. Danang yang berada disebelah saya pun memperhatikan. Si ibu "berbicara" banyak sekali dan agak cepat, sampai terkadang saya bingung apa maksudnya, namun sedikit bisa memahami. Saya sok mengerti saja, sambil berpikir keras untuk menafsirkan.

Informasi pertama yang saya dapat adalah, tujuan ibu ini ke Cirebon. Kemudian ibu itu berisyarat kembali, saya agak kebingungan, mungkin dia menanyakan sesuatu ke saya. Saya sedikit menangkap, dia bertanya dari mana asal saya. Saya bilang saja secara lisan, "dari Depok Bu". Namun ibu itu tidak paham. Sampai dia menyuruh saya untuk buka notes di hp, untuk menulis jawabannya. Dari situ baru paham kalau si ibu sepertinya juga mengalami tuna rungu. Pembicaraan kami pun terus berlanjut. Terkadang saya menanggapinya hanya dengan menangguk dan tersenyum, sebenarnya tidak paham apa yang dimaksud dari si ibu, hehe maaf bu :). Sesenang itu saya ketika saya bisa menangkap apa yang ibu maksud, hehe norak. Danang dan Adan yang kebetulan kursinya ada diseberang lorong tengah gerbong pun terkadang diajak bicara. Tak jauh beda dengan saya, mereka menanggapinya dengan tersenyum. Entah mereka paham atau tidak :).

****

Dari puluhan keberangkatan kereta ekonomi AC ke Jogja pada hari itu, saya ditempatkan keberangkatan kereta pada jam satu siang. Dari sekitar tujuh gerbong dalam satu rangkaian kereta, saya menempati gerbong nomer lima. Dan dari puluhan nomer deret kursi, saya menempati nomer 14 A, tepat di depan ibu itu. Allah mempertemukan kami. Mungkin Allah ingin mengingatkan kepada saya untuk lebih bersyukur. Karena nikmat dari-Nya itu sederhana, tapi tak tergantikan. Sesederhana kita untuk bisa berbicara untuk bisa berkomunikasi. Mungkin Allah ingin saya untuk sadar, keterbatasan itu relatif. Relatif terhadap usaha manusia untuk melampauinya. Buktinya ibu itu, mungkin memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, tapi kegemarannya malah bersosialisasi. Saya meyakini bahwa semua kejadian pasti ada hikmahnya, termasuk pertemuan saya dengan ibu itu.

****

Saya melihat ke arah luar jendela di sebelah kiri saya, terdapat plang besar bertuliskan "STASIUN CIREBON PRUJAKAN". Ibu yang sedari tadi menunjuk-nunjuk jam tangannya, bergegas berdiri dan bersiap untuk turun. Sebelum beliau melangkah keluar, si ibu menumpahkan sejumlah permen mint ke meja kecil di sebelah kiri saya. "Untuk dimakan selama perjalanan," seraya ibu itu berkata dengan bahasa isyaratnya. Saya hanya tersenyum, berterima kasih. Ibu itu lalu melangkah pergi keluar.

"Bro, tadi  lo ngerti apa yang diomongin sama ibu itu?" Adan yang tadi juga diajak bicara sama ibu itu langsung bertanya ke saya dan Danang. "Haha, kadang paham, kadang nggak juga Dan," jawab saya.

Grek. Kereta pun langsung bergerak untuk melanjutkan delapan jam perjalanan yang tersisa menuju Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta.