Jump High!: Tokyo Dome (2014)

Jump High!: Tokyo Dome (2014)
Jump High! Tokyo Dome - Japan (2014)

Minggu, 26 Agustus 2012

A Little Story from Big Island : Part II

Yuk, mari kita lanjutkan catatan perjalanan gue ke Lombok kali ini hehe :D. Oke, bismillah...

Day 2nd (13 July 2012)
Sekitar pukul 03.30 WITA (kalo enggak salah, penyebrangan memakan waktu sekitar 5 jam), kapal ferry yang kita naikin ini udah mulai merapat ke pelabuhan Lembar, pelabuhan yang ada di bagian barat Pulau Lombok. Untuk lebih enak ngebayanginnya, liat peta di bawah ini aja :)

Penyebrangan Padang bay - Lembar memakan waktu sekitar 5 jam

Nah, sebelom turun dari kapal ferry, gue nyempetin foto-foto dikit dari atas kapal. Lumayanlah, ngisi waktu dikit sebelom menginjakkan kaki ke pulau nan eksotis ini hehe :)


We love Indonesia


Sebelum kita mendekati Pelabuhan Lembar, Agil udah sempet ngabarin Danang kalo kita bakal sampe pelabuhan aja, setelah itu kita belum tau lagi mau naik apa. Alhamdulillahnya, Danang beserta bapaknya bersedia menjemput kami di pelabuhan dini hari itu juga. Wah, super sekali ini hohoho :D

Sambil menunggu dijemput, kita nongkrong dulu bentar di warung kopi pelabuhan. Sambil beli kopi, lumayan manasin perut wkwk

Kopi Rp 3 ribu, gelasnya kecil banget. Jadi kopinya kekentalan :(
Oke, setelah kita ketemu Danang dan bapaknya, kita langsung meluncur ke singgasananya Danang yang ada di Kota Mataram. Cussss......

Karena telah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, tanpa babibu lagi kita langsung tepar di pulau kasur yang ada di rumah Danang hehehe :D

Tepaarrrrr!!!

Agil and his smile

****

Rencananya di hari ini kita mau ke Pantai Senggigi, main-main kano dikitlah, itung-itung pemanasan buat di Pulau Lombok ini hoho. Tapi karena hari itu adalah hari Jumat, kita sepakat buat berangkat ke Pantai Senggigi sorenya aja.

****

Perjalanan dari rumah Danang ke Pantai Senggigi kira-kira 30 menit (kalo gak salah yee haha). Dan untungnya, orang tua Danang bersedia meminjamkan mobilnya untuk kita bawa menuju pantai, jadi gak perlu repot-repot cari transportasi hohoho.

Tancaaapp!!

Agil and his smile (again)






Untuk bisa masuk ke Pantai Senggigi ini, kita berempat cukup membayar total Rp 6 ribu rupiah saja. Harga masuk per orangnya cuma seribu perak looh, ditambah biaya parkir mobil sebesar Rp 2 ribu :)

It's canoe time!!



Setelah lumayan puas berkano ria, kita niatnya mau ngejar sunset di daerah yang lebih diatas lagi dan ini harus dikebut make mobil. Yah, apa daya, matahari tak pernah menunggu sedetik pun untuk meneggelamkan dirinya di ufuk barat sana *asik*. Kita telat gak dapet sunset di tempat yang kata Danang recommended buat ngeliat sunset. Jadinya kita cuma berhenti di tepi jalan dan foto-foto dikit, walaupun fail semua sih foto-fotonya wakakakak :D

Setelah sedikit foto-foto, kita langsung cus buat balik lagi ke rumahnya Danang di Mataram. Dan kita rencananya malem itu pengen cari makan di luar. Nah, alhamdulillahnya, orang tua Danang berniat mentraktir kita buat makan malam diluar, jadinya kita bisa menekan pengeluaran kita untuk hari ini hehehe :p. Makasih banget loh ini Nang! :D

Hmmm, cerita sedikit tentang kondisi kota Mataram, menurut sepenangkapan pandangan gue ketika jalan di sana. Untuk ukuran sebuah ibukota provinsi, Mataram itu kotanya agak sepi. Tingkat keramaiannya pun gak lebih tinggi dari kota deket kampung halaman gue, Tasik. Kira-kira sama ramainya lah. Gedung-gedung pun gak ada yang sampe mencuat ke langit, kayak di Jakarta. Ada mall disana, cuma satu kalo gak salah yee, seinget gue waktu itu pernah ditunjukin Danang hohoho.

Dan tempat-tempat makan pun udah mulai pada tutup antara jam 20.30-21.00 WITA. Jadi kehidupan malam di Mataram ini berakhir lebih cepat. Cukup sore sih menurut gue. Waktu itu, kami pun agak sedikit kesulitan mencari tempat makan yang masih buka. Dan ketika ketemu pun, di sana kita udah jadi pelanggan terakhir. Menu-menu udah pada abis. Tapi tak apalah hohoho.

Gue dan Agil (dengan senyuman khasnya haha)

Fant*!! (ups promosi :p)

Khas Lombok :9




Ayam taliwang dan sambel plecing, adalah dua menu utama yang kita makan waktu itu. Ayam taliwangnya pun gak cuma satu jenis, ada beberapa jenis dengan masing-masing ciri khasnya. Ada yang pedes banget, ada yang manis-manis kecap, ada yang digoreng, macem-macem pokoknya.

Nah, kalo sambel plecing ini sejenis lalapan (bukan lalapan juga sih, tapi setipe), isinya daun paya (kalo gak salah), tauge, ada kacang gorengnya, dan diatasnya dikasih sambel tomat (kalo gak salah lagi yee haha). Sebelum dimakan, harus diubek-ubek dulu pake tangan biar sambelnya nyampur hohoho.

Selesai makan dijamin deh, keringat bercucuran! Hahaha. Makanan Lombok itu... pedas dan bikin nagih hohoho.

Yak, ini dia rincian pengeluaran untuk day 2nd :D
  • Beli kopi di pelabuhan.....................................................Rp 3 ribu
  • Masuk ke Pantai Senggigi (per orang dewasa).................Rp 1 ribu
  • Biaya parkir mobil...............................................Rp 2 ribu
  • Sewa kano (per kano).............................................Rp 12,5 ribu
  • Sewa tenda di pantai................................................Rp 10 ribu
Jadi total pengeluaran kita untuk hari ini adalaahhh........ Rp 28.500,- saja sodara-sodara *jrengjrengjreng*. Irit, soalnya kita banyak ditraktir hari ini hehehe.

Oke, gue rasa part II cukup sampai hari ke-2 dulu. Nantikan perjalanan kita esok harinyaa!! Yup, di hari ke-3 kita bakal ke Gili Trawangan!! Di sana kita bakal nginep, supaya bisa puas menikmati pulau kecil di barat laut Pulau Lombok ini hohoho.

Tunggu part III-nya ya. Salam! :)

Klik disini untuk part III yaa

Sabtu, 25 Agustus 2012

A Little Story from Big Island : Part I

Prakata : Sebenernya tulisan ini udah pengen gue post sejak lebih dari satu bulan yang lalu. Tapi baru punya niat untuk menulis sekarang, hehe maaf :)

Tak terasa liburan sepanjang 3 bulan nonstop ini tinggal seminggu lagi akan berakhir. Akhirnya bisa selesai juga nih liburan, gue kira gak bakal ada ujungnya hahaha. Yahh, selama 3 bulan ini kegiatan gue pun gak terlalu beragam sih. Kegiatan gue didominasi dengan berada di kampus atau enggak berada di rumah selama liburan hoho. Yaa enggak cuman itu aja sih sebenernya, tapi dua tempat itu yang mendominasi selama 3 bulan ini.

Awalnya gue kira liburan 3 bulan itu menyenangkan, nyatanya.... TIDAK sama sekali. Untung kalo dihari itu gue ada kerjaan. Tapi kalo enggak ada, yah siap-siap membatu aja dirumah huhu.

Tapi untungnya, ditengah-tengah liburan ada setitik harapan untuk bergerak, ada sedikit oasis ditengah padang pasir kejenuhan *halah*. Yak, gue liburan ke Lombok! Yeay! Lumayanlah, sebagai pemecah kejenuhan atas kegiatan gue yang hampir monoton setiap harinya hoho.

Yup, gue udah ada rencana jalan-jalan ke pulau eksotis ini sejak Desember tahun lalu, bareng temen-temen gue, tepatnya anak-anak Mufe yang senantiasa menggelosor di teras Mufe hahaha. Awalnya kegiatan jalan-jalan ini diprakarsai oleh temen gue Hendra, seorang anak Tegal yang eksentrik, dan mengajak temen-temen semuanya. Tapi, seiring berjalannya waktu, karena satu dan lain hal, tinggallah 4 orang yang bersedia melanjutkan wacana perjalanan ini. Empat orang ini yaitu gue, Budi, Agil, dan Bayu.

Kenapa Lombok? Yak, karena Bali is too mainstream, kebanyakan pantai di Lombok pun masih banyak yang indah. Selain itu, salah satu anggota geng Mufe kita yakni, saudara Danang Pranajati Asrori, adalah orang asli Lombok, yang kebetulan bakal balik ke Lombok untuk liburan kali ini. Jadilah kita menyerbu kediaman Danang hohoho

Kita memutuskan untuk berangkat pada tanggal 12 Juli hingga 16 Juli. Fixnya, kita bisa full menikmati Lombok sekitar 3 hari. Dan berapa budgetnya? Kalo soal budget, pas gue tanya ke anak-anak mau ngebudgetin berapa buat perjalanan ini, mereka jawabnya, "budget unlimited brooow." -,- hahaha. Tapi tenang aja, ada rincian pengeluarannya kok di bawah nanti.

Day 1st (12 July 2012)
Perjalanan dimulai dari rumah masing-masing *iyalah*. Kita berempat udah janjian buat langsung ketemu di terminal 3 bandara Soekarno Hatta. Jam 1 siang udah di sana. Tapi, karena gue super parno kalo telat, gue pun berangkat sangat in time. Gue udah jalan dari rumah dari jam setengah 9 pagi! hohoho. Setelah naik angkot dan mencapai terminal Pasar Minggu, gue naik bus damri bandara. Dan gak lama setelah gue naik, busnya langsung jalan. Yaa alhamdulillah gak nunggu lama di sini wkwk.

Disaat gue sedang asyik-asyiknya menikmati kemacetan Jakarta, gue dapet sms super mengejutkan dari salah seorang tim jalan-jalan Mufe kita kali ini, yakni Bayu. Yang intinya di pagi itu dia masih berposisi di Solo, dan pesawatnya yang seharusnya udah sampe di Jakarta jam satu siang, harus didelay hingga jam 15.00 WIB. Sementara di tiket pesawat untuk berangkatnya menunjukkan Gate closed itu jam 15.10. Setelah melalui sedikit diskusi, akhirnya Bayu berencana untuk mencari tiket lagi untuk penerbangan berikutnya. Unfortunately, walaupun udah sampe nyari-nyari tiket pesawat untuk keesokan harinya, dan itu pun udah nyari tiket untuk kelas bisnis, masih gak kedapetan juga. Yah, dengan sangat menyesal, Bayu harus tereliminasi dari perjalanan ini :(

Oke, gue pun akhirnya udah tiba di terminal 3 sekitar pukul 10.30 WIB. Yak, super kecepetan ini namanya. Alhasil, gue harus siap-siap bengong sampai jam satu siang nanti huhu.

Setelah beberapa jam menunggu, Agil dateng lebih dulu, sekitar jam 12 siang. Dan disusul oleh Budi yang on time datang jam satu siang. Segera setelah Budi dateng, kita masuk ke gedung terminal 3, untuk bisa check in counter terlebih dahulu

Yak, katronya dimulai di sini. Entah karena pada kurang paham tahapan-tahapan standar yang harus dilalui di bandara, kita nyasar ke check in counter yang bagian internasional hahaha. Harusnya kita ke bagian check-in yang domestik.

Setelah check-in, kita nyempetin dulu buat sholat yang dijama' antara zuhur dan ashar, makan siang (makan siang di bandara itu mahal, untuk yang mengusung perjalanan backpacking super irit, hal ini sangat tidak dianjurkan), dan ke WC *ini penting*

Langsung aja, setelah ini kita masuk ke boarding lounge, sekitar jam tiga sore kurang beberapa menit. Menunggunya pun gak terlalu lama, gak sampe 20 menit, kita udah ada di pesawat.

Satu hal yang gue sesali saat penerbangan keberangkatan ini adalah menyimpan kamera gue di tas, huhuhu :(. Kenapa? Gue baru nyadar penerbangan kita ini penerbangan sore. Dan view yang ditawarkan saat perjalanan subhanallah indah sekali :') Sunset di atas pesawat itu sebuah pemandangan yang a must taken view banget deh intinya. Ga mau rugi, akhirnya gue mengabadikan pemandangan itu dengan kamera hp (udah di setting flight mode tentunya hehe), yah walaupun cuma satu gue ambil fotonya huhu

Foto yang berhasil gue dapat ketika diatas pesawat
Oiya, gue lupa jelasin, kalau keberangkatan kita ini gak langsung ke Lombok, tapi via Bali (di Bali cuma numpang lewat hehe). Demi menekan anggaran, kalo langsung ke Lombok berangkatnya bisa hampir satu juta, tapi kalo ke Bali bisa ditekan hingga setengahnya. Jadi kita harus mendarat dulu di Ngurah Rai, kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke Lombok.

Kira-kira jam 18.30 WITA kita udah sampe di Bandara Internasional Ngurah Rai. Di bandara kita sempetin buat sholat maghrib yang udah dijama' juga dengan sholat isya, biar perjalanan selanjutnya lebih tenang, soalnya jujur, kita bertiga agaknya kurang tau mau naik apa setelah dari bandara ini hohoho.

Rencana awal kita mau ke terminal Mengwi dulu buat naik bus malam yang langsung mengarah ke kota Mataram. Tapi, setelah tanya sana-sini dengan bli bli yang ada di sana. Mereka memberi anjuran untuk langsung aja naik taksi yang ada disana untuk langsung ke pelabuhan Padang Bay. Soalnya, kalo harus ke terminal Mengwi dulu, malah muter-muter jatohnya dan buang-buang uang aja.

Di bandara, antrian taksi cukup panjang. Bukan panjang lagi, tapi udah ngelingker-lingker diisi sama turis-turis ckckck. Yahh, dengan sabar kita mengantri, dengan gue dan Budi bertindak sebagai delegasi orang yang mengantri diantara kita bertiga hohoho. Sementara Agil ada diujung belakang antrian, jaga-jaga kalo kita salah antrian. Untungnya, Agil tiba-tiba ditawarin salah satu bli yang ada disana buat ikut aja travelnya dia ke Padang Bay. Kita dapet harga Rp 315 ribu udah sampe pelabuhan Padang Bay, setelah beberapa kali menawar. Karena harga taksi standar ke Padang Bay juga Rp 315 ribu, akhirnya tawaran ini kita ambil. Lagipula antrian taksi pun masih cukup panjang huhuhu.

Awalnya kita emang rada was-was, soalnya gue tau, ini bukan travel resmi, cuma travel bodong dadakan doang. Tapi untungnya supir yang mengantar kita ternyata orang baik hehe :). Namanya Pak Ketut. Orangnya pinter ngajak ngobrol nih. Sepanjang perjalanan kita diajak ngobrol mulu wkwk.

Menyadari penumpangnya itu pria dewasa semua *asik*, ditengah obrolan yang bisa gue bilang cuma basa-basi doang, Pak Ketut nyaut, "Kalian mau nonton penari telanjang? Seksi-seksi looh. ^#$*@^#*&^%@!! (obrolan selanjutnya mulai mengandung unsur-unsur dewasa)." Hiyak, gue bengong, Budi bengong, Agil bengong. Trus pada nyengir gak tau mau jawab apa. Sebenernya sih bukan karena kitanya yang terlalu lugu buat ngehadepin obrolan macam ini. Tapi pembawaan Pak Ketut yang dengan santai mengobrol hal-hal seperti ini, membuat kita bertiga hanya bisa terdiam, terpana, dan terbata *ngeces**lebay*. Oke, sementara Agil dengan sok asik nanggepin obrolannya Pak Ketut di depan, gue dan Budi yang duduk di belakang cuma bisa ketawa cekikikan wakakakakak :D

Sekitar jam 22.00 WITA, kita udah nyampe di pelabuhan Padang Bay. Langsung aja kita ke loket pembelian tiket kapal ferry, harganya Rp 36 ribu. Oiya, sebelum naik ke kapal ferry, kita nyempetin dulu buat beli nasi bungkus dulu di warung terdekat. Maklum, harga diatas kapal ferry nanti bisa inflasi gila-gilaan, popmie aja sampe 10 ribu. Langsung naik haji tuh tukang popmie hahaha. Gue sendiri habis sekitar 10 ribu buat beli nasi bungkus hehe.

Truk-truk yang sedang masuk ke kapal ferry

Kondisi di dalam kabin kapal ferry, nonton bola bareng cuy!
Kapal ferry yang kita naikin ini enak loh. Ber-AC dan karena penumpangnya tidak terlalu ramai ketika itu, kita bisa leluasa berada di dalam kapal hehe :)

Rincian pengeluaran day 1st :
  • Tiket pesawat AirAsia Jkt- Dps...................................Rp 538,5 ribu
  • Angkot S15 (dari rumah ke terminal Pasar Minggu :p)................Rp 2 ribu
  • Bus Damri bandara...........................................Rp 20 ribu
  • Airport tax........................................................Rp 40 Ribu
  • Makan siang di bandara.............................................Rp 46,5 ribu
  • Travel (315 ribu dibagi 3)..............................................Rp 105 ribu
  • Nasi bungkus..............................................................Rp 10 ribu
  • Tiket kapal ferry.................................................Rp 36 ribu
Kalo ditotal, pengeluaran hari pertama sebesar Rp 798 ribu (mahal karena tiket berangkat, makan siang, dan travel huhu)

Wah, cukup panjang ya buat perjalanan hari pertama aja hoho. Untuk menghindari post yang kepanjangan, akan gue bagi jadi beberapa post *gaya* wkwkwk. Jadi, akan ada part II nya ya, ditunggu aja, ga lama kok hehehe.

Sekian dulu untuk post pertama ini. Salam! :)

Klik disini untuk ke cerita perjalanan selanjutnya :)

Minggu, 19 Agustus 2012

Sebuah Post Sederhana di Hari yang Luar Biasa

Di post yang sederhana ini gue ingin mengucapkan...

Taqabbalallahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum....
Semoga Allah menerima aku dan kalian, puasaku dan puasa kalian..

Semua orang bersuka cita, sanak saudara berkumpul semua di hari yang fitri ini
Ketupat dan opor memenuhi meja, anak-anak riang meminta "salam tempel" kepada keluarganya

Minal aidin wal faidzin, semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke suci...

Mohon maaf lahir dan batin ya readers! Maafkan kesalahan gue yang telah lalu hehe :D

Semoga kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan yang berikutnya... Aamiin :)

Eid mubarak everyone!

Minggu, 08 Juli 2012

Mencari Negarawan untuk Negeri ini, Masih Adakah?

Mencari negarawan untuk negeri ini, masih adakah? Mungkin itu adalah pertanyaan setiap individu dari rakyat Indonesia yang hingga kini masih saja menunggu seseorang. Seseorang yang bisa menjadi figur perubahan dan panutan bagi negeri Indonesia ini. Mencari negarawan yang ideal mungkin bisa diibaratkan dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Atau bagaikan melihat semut hitam yang sedang berjalan di atas batu hitam di tengah pekatnya malam. Apa artinya itu? Ya, sangat sulit. Di tengah budaya dan praktik-praktik korupsi yang hampir mendarah daging di tubuh pemerintahan Indonesia, baik dari tingkat RT hingga tingkat kelas kakap seperti yang ada di Senayan sana. Mungkin kita akan menemukan beberapa yang masih berjalan dalam alur yang benar. Namun itu memang hanya beberapa dan tidak ada apa-apanya ketika menghadapi ribuan pihak yang telah memiliki "kelainan mental" dalam memerintah.
Tulisan saya ini mungkin belum bisa menjadi solusi dari permasalahan pelik di negeri kita ini dalam masalah kepemimpinan negara kita. Namun di sini saya mencoba mencari bagaimana sosok ideal seorang negarawan, ataupun seorang pemimpin. Konten dalam penulisan terinspirasi dari hasil focus group discussion yang saya ikuti pada kegiatan The Next Leader 2011, sekitar 6 bulan yang lalu.
Di sini ada tiga hal yang harus kita pahami. Intelektual, integritas, intimacy adalah tiga hal yang tak boleh terlewatkan dalam konsep mendapatkan sebuah negarawan yang ideal. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah negarawan memiliki intelektual yang memadai. Tanpa adanya intelektual, bagaimana mungkin seorang negarawan itu mampu membawa negaranya ke arah yang sesuai diharapkan. Hal kedua yang dibutuhkan oleh seorang negarawan adalah integritas. Integritas merupakan keselarasan antara nilai yang dianut dengan tindakan yang diperbuat oleh seseorang. Melakukan tindakan yang sesuai dengan nilai secara konsisten meskipun dalam melakukannya menemui tantangan yang berat merupakan hal yang dibutuhkan oleh seorang negarawan. Hal ketiga yang dibutuhkan oleh seorang negarawan adalah sikap intimacy, atau rasa memiliki terhadap suatu hal (sense of belonging). Adanya intimacy yang cukup kuat terhadap negara Indonesia, akan menumbuhkan rasa cinta yang begitu besar. Rasa cinta yang membuat seseorang akan melakukan hal apapun untuk memperbaiki negara ini ditengah rasa pesimis yang begitu deras kehadirannya di tengah-tengah masyarakat kita.
Ketiga hal diatas – intelektual, integritas, dan intimacy – tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hilangnya salah satu unsur yang dimiliki hanya akan menyebabkan kekacauan dan krisis dalam jiwa kepemimpinan yang dibutuhkan oleh seorang negarawan. Memiliki intelektual namun tidak memiliki integritas dan intimacy akan menciptakan pemimpin yang tamak akan kekuasaan dan tidak peduli terhadap rakyatnya. Bagaimana pula bila seorang negarawan memimpin negaranya tanpa intelektualitas, meskipun memiliki integritas dan intimacy. Kondisi tersebut hanya menghasilkan seorang pemimpin yang mudah untuk dipermainkan.
Agak normatif memang, apabila kita membicarakan bagaimana sosok seorang negarawan yang ideal. Tapi setidaknya kita mempunyai gambaran bagaimana sosok figur yang kita tunggu-tunggu bisa membawa perubahan. Atau mungkin diantara kita sebenarnya ada sosok figur yang sebenarnya dicari-cari rakyat Indonesia? Semoga saja.
Pilkada DKI Jakarta yang akan diadakan tanggal 11 Juli nanti merupakan pencarian masyarakat, khususnya Jakarta, terhadap seorang negarawan yang diharapkan mampu membawa ibukota negara ini ke kondisi yang lebih baik. Begitu juga halnya dengan pemilu capres 2014 nanti. Siapapun yang terpilih nanti sangat diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia bisa membawa perubahan negara ini ke arah yang lebih baik. Aamiin :)

Senin, 02 Juli 2012

Just some Pict...

    Two days ago, I just had a family gathering. On that occasion, we went to Istana Cipanas and Taman Bunga Nusantara. Taman Bunga Nusantara is a place that many kinds of flower collected and the guests can look around the beauty of one of the Allah creation. And it's really really beautiful :D. Here is some photos which was taken at Taman Bunga Nusantara...












And I think I just found my new hobby, that is photo hunting! ^^. Still an amateur and must learn more about the photography art, hehe. And of course learn more about the photoshop skill to have a great picture! haha.

Can't wait for the next destination for my photo hunting.... Lombok, here we go!

Senin, 19 Maret 2012

Merantau...

Pagi semua!

Hampir 19 tahun saya mendekam di suatu daerah yang bernama Tanjung Barat. Sungguh rasanya ingin melihat hal-hal baru di luar sana. Rasanya terlalu naif apabila saya terus berdiam diri di sini. Adalah sebuah kerugian apabila saya menghabiskan waktu hidup saya dengan berdiam diri saja. Karena melihat seluruh sisi dunia sangatlah sayang apabila saya lewatkan.

Sedikit kutipan motivasi dari Imam Syafii yang pernah saya baca di novel Negeri 5 Menara, tentang merantau...

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang


Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu  tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika didalam hutan.
 
Hmmm... Semoga bisa membakar semangat dan semoga bisa tercapai, keinginan saya untuk pergi keliling dunia! Insya Allah...



Semangat pagi!!
Wassalamualaikum warahmatullah :)

Sabtu, 17 Maret 2012

Bola Tenis dan Telur Ayam : Sebuah Obrolan Malam di Depan Ruang BEM

Oke, just another hectic week I've just passed.... hahaha. Sebenernya saya udah mau memposting ini sejak hari selasa lalu. Tapi apa daya (cailah), ternyata banyak sekali tugas-tugas kuliah yang menumpuk yang belum saya kerjakan (maklum, mahasiswa deadliner. huhuhu. semoga bisa berubah! hup hup!). Belum lagi ada rapat rutin ELD dan kelas asistensi yang membuat saya untuk pulang agak malam. huhuhu...
 
Tapi saya mendapat sebuah obrolan yang menarik ketika hari Senin lalu. Yup! Hari Senin yang lalu saya dapet tugas buat mewawancara seseorang yang inspiratif untuk artikel di mading ELD terkait untuk lebih membooming kan acara FEUI Awards (acara dari dekanat, dan dilaksanakan oleh departemen keilmuan BEM FEUI). Saya tidak sendiri, yang ikut dalam wawancara kali ini ada Kak Irey (Kadept ELD), Melly, dan Cindy.

Awalnya saya tidak mengagendakan untuk ikut wawancara ini sebelumnya. Tapi tiba-tiba, pas Senin paginya saya diajak buat ikut wawancara. Tentu aja saya kaget (padahal rencananya mau jadi kupu-kupu pas hari itu, hehe), apalagi wawancaranya lumayan malam, sekitar jam 8 malam rencananya. Tapi setelah saya pikir, siapa tau bisa dapet sesuatu yang menarik dari wawancara ini. Yoweslah, akhirnya saya merelakan untuk pulang lebih malam dari rencana sebelumnya, huhuhu T.T 

Nah... Dalam wawancara kali ini, kita mewawancarai seorang lulusan mahasiswa FEUI terbaik dalam bidang pengabdian masyarakat. Siapa dia? Dia adalaahh.... Muhammad Alfatih Timur, atau yang biasa kita panggil Kak Timmy. Lulusan FEUI jurusan manajemen. Kita dapet rekomendasi nama Kak Timmy, dari Kak Nisa (Kabid pendidikan) untuk wawancara kali ini ^^.

Sekitar jam setengah 9 wawancara akhirnya dimulai. Berbagai macam pertanyaan pun kami lontarkan ke Kak Timmy, walaupun sifatnya lebih seperti ngobrol-ngobrol santai sih.... Ada pertanyaan seputar FEUI awards : bagaimana pendapat Kak Timmy tentang FEUI awards, motivasi apa yang dimiliki Kak Timmy untuk mengikuti FEUI awards, dan sebagainya dan sebagainya. Yang menarik, ketika ditanya apa ekspektasi dari Kak Timmy dari mengikuti FEUI awards ini ialah dia ingin men-down to earth-kan istilah seorang mapres. Dimana mapres bukan hanya sebutan bagi mahasiswa-mahasiswa yang memiliki IPK setinggi langit, berotak dewa (walah, lebay :p), tapi mapres juga layak untuk diperoleh oleh mahasiswa yang memiliki IPK yang masih manusiawi dan normal. Hohoho, jawaban yang menarik menurut saya, wkwkwk :p.

Selain pertanyaan-pertanyaan seputar FEUI awards, obrolan kami pun melebar ke berbagai macam arah (halah, apa dah). Kami bertanya seputar pengalaman Kak Timmy ketika menjadi mahasiswa. Dan.... Wow! Luar biasa! Bayangin aja, di semester satu dia udah ikut sebanyak 8 kepanitiaan, ckckck. Ruarrr biasa! Gak ngerti nekat atau gimana. Tapi yang jelas itu banyak banget coy, heuheuheu. Selain itu dia juga pernah menjadi fungsionaris BEM FEUI di tahun pertama sebagai staff Kastrat dan ditahun kedua sebagai kadept Kastrat, sedangkan di tahun ketiga dia menjadi fungsionaris BEM UI dibagian kastrat pula (widiiih, ngeri kali kastrat, wkwkwk). Dan ketika kuliah, dia juga menekuni bidang wirausaha, berbagai macam bidang usaha telah dia coba, walaupun ada gagalnya juga.

Ini dia.... gagal. Mungkin merupakan lima huruf yang menakutkan bagi sebagian orang. Tapi justru kegagalan ini yang menempa diri kita untuk berpikir lebih keras, bekerja lebih giat, sampai titik nadir dari kemampuan kita. Ketika menghadapi kegagalan, sikap kita seharusnya seperti bola tenis, jangan seperti telur ayam. Kenapa bola tenis? Kenapa telur ayam? Coba kita bayangkan. Ketika sebuah telur ayam jatuh, dia akan retak, pecah, dan mengeluarkan semua isinya. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi ketika bola tenis jatuh, dia akan memantul lagi keatas. Walaupun jatuh lagi, dia akan kembali memantul keatas.

Kira-kira itu yang dikatakan Kak Timmy ketika wawancara. Ketika mendapat masalah, alhamdulillah. Ketika terlibat konflik dengan orang lain, alhamdulillah. Ketika kita mendapatkan kesulitan, alhamdulillah. Karena dari situlah diri kita ditempa, ditempa, dan terus ditempa. Penempaan diri ini yang membuat diri kita, tanpa kita sadari, akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Mungkin ini sama seperti yang terjadi pada saya hampir setahun yang lalu. Ketika saya mengikuti proses seleksi masuk PTN. Tidak cukup sekali kegagalan yang saya dapatkan. Saya dua kali gagal, ketika snmptn undangan dan snmptn tertulis. Hampir menyerah ketika gagal di snmptn tertulis. Ya, benar-benar hampir menyerah. Dengan harapan dan tenaga yang tersisa saya ikut simak. Dan alhamdulillah, saya diterima di akuntansi ui :).

Gagal, ya gagal.... Itu lah sekolah kehidupan....

Di wawancara itu Kak Timmy sempat menyebutkan sebuah doa yang dipanjatkan oleh Sir Douglas McArtur, panglima perang Amerika, untuk anaknya sebelum tidur.

"Tuhan..... berikanlah anakku jalan yang berkelok-kelok ketimbang jalan yang lurus
Tuhan..... berikanlah anakku masalah ketimbang kemudahan
Tuhan..... berikanlah anakku tempaan ketimbang kemudahan hidup."

Doa yang unik, dan sangat membuka pikiran saya. Ketika gagal, disaat itulah kita ditempa. Ketika gagal, disaat itulah kita menjadi lebih kuat. Ketika gagal, disaat itulah kita menjadi lebih dewasa....

Wawancara itu berlangsung sekitar satu setengah jam dan tak terasa jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 22.00 wib.

Obrolan yang menarik, dan saya berharap bisa mendapatkan lagi obrolan-obrolan lainnya yang bisa membuka mata saya. Yang tak hanya sekedar obrolan warung kopi. hohoho ^^

Hmmm, mungkin itu aja buat post saya kali ini. Tugas masih banyak yang numpuk, UTS seminggu lagi, dan masih banyak lagi yang harus saya lakukan. huhuhu... T.T. Haaah, tapi itu namanya tempaan, yang bisa membuat kita lebih kuat dari sebelumnya. Hup! Hup! Hup! Semangat!! Hamasah!! ^^

Oiya, ini ada foto pas wawancara kemaren. Mukanya udah pada lecek-lecek nih kayaknya, wkwkwk :p.

Dari kiri ke kanan : Saya (Agi), Cindy, Kak Timmy, Melly, Kak Irey
Yang moto : Frizon aka Ijon

Sekian dari saya, semoga bermanfaat, dan keep inspiring!

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)