Jump High!: Tokyo Dome (2014)

Jump High!: Tokyo Dome (2014)
Jump High! Tokyo Dome - Japan (2014)
Tampilkan postingan dengan label Sosialita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosialita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Cerita Gerbong: Bahasa tanpa Kata

Sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya sekitar awal bulan Januari, saya bersama teman-teman kuliah saya mendapat kesempatan untuk melancong ke kotanya Sri Sultan Hamengkubuwono X, Jogjakarta. Travelling kali ini memang sengaja dibuat sama temen-temen untuk refreshing dan menjadi semacam "perpisahan" kita setelah kepengurusan satu tahun di BEM FEUI. Yap, kami sempat bersama selama satu tahun ketika menjabat sebagai bph pada tahun 2013 lalu, jadi gak sah kalo berpisah tanpa perpisahan hehe. Awalnya saya kira rencana ini cuma jadi wacana, tak disangka kami ber-25 jadi juga melancong ke Jogja! :)

Kami berangkat ke Jogja berangkat menggunakan kereta ekonomi AC, begitu juga nanti ketika pulangnya. Ala "backpacker", ceritanya, tapi kami malah mengalami sedikit kehebohan ketika sudah memasuki gerbong kereta. Nomer tempat duduk di tiket kami mengacak, bercampur baru dengan penumpang yang lain, bahkan ada yang terpisah di gerbong lain. Maka ekspektasi kami pun sedikit meleset, yang awalnya ingin barengan ketika perjalanan, harus siap berbagi kursi dengan penumpang yang lain. Ditambah lagi kursi kereta ekonomi AC yang saling berhadap-hadapan. Masih untung ada yang berdua atau bertiga, tapi ada teman saya, Adan dan Danang, mereka harus terpisah sendiri di tempat mereka masing-masing dan bergabung dengan sebuah keluarga yang tidak mereka kenal. Bersiap untuk 12 jam awkward momment, selamat menggunakan skill bersosialisasi! :D

Sementara saya sendiri berhadapan dengan dua orang, yang awalnya saya kira pasangan suami istri, ternyata setelah saya perhatikan lebih lanjut ternyata bukan. Disebelah kanan saya kosong, mungkin tempat duduk itu sebenarnya untuk teman saya yang tidak jadi ikut ke Jogja, makanya tidak ada yang menempati. Setelah kereta mulai berjalan, akhirnya Danang pindah tempat duduk di sebelah saya, mungkin takut diadopsi sama keluarga yang duduk bareng sama dia ya, haha.

****

Sempat saya perhatikan dua orang di depan saya, seorang ibu dan seorang bapak, mereka bukan pasangan suami istri. Mereka juga seperti kami, harus berbaur dan berbagi dengan orang yang baru ditemui di atas gerbong. Si Bapak terlihat cuek, dan tidak terlalu peduli dengan orang yang ada dihadapannya dan disebelahnya. Sementara ibu yang ada di depan saya terlihat lebih ramah dan lebih senang mengajak bicara orang yang ada disekitarnya. Terkadang ibu tersebut menawarkan permen ke kami, terkadang pula dia sering menggunakan hpnya untuk menghubungi seseorang (mungkin keluarganya), dengan bahasa isyarat. Belum pernah sebelumnya saya bertemu langsung dengan orang yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat lewat hp, jadi cukup menyita perhatian saya ke ibu itu.

Selama perjalanan, saya tidak terlalu tertarik untuk mengajak ngobrol ibu dan bapak yang ada di depan saya. Beberapa jam di awal saya habiskan dengan tidur. Bangun-bangun, kanan kiri saya sudah ada hamparan sawah membentang. Lumayan, pemandangan bagus setelah terbangun dari tidur :). Mungkin, melihat saya yang sudah bangun dan sedang tidak ada kerjaan, si ibu yang ada di depan saya mengajak ngobrol saya, dengan bahasa isyarat. Awalnya saya pikir ibu itu memiliki saudara yang mengalami keterbatasan dalam pendengaran, tapi menyadari saya diajak berbicara dengan bahasa isyarat, saya baru sadar ibu itu yang menderita tuna wicara. Entah, beliau mengalami tuna rungu juga atau tidak, karena setau saya kalau orang yang mengalami tunga rungu sejak lama, secara otomatis dia mengalami tuna wicara juga *CMIIW*.

Oke, saya pun diajak bicara sama beliau. Perlahan mencoba memahami apa yang ia maksud. Danang yang berada disebelah saya pun memperhatikan. Si ibu "berbicara" banyak sekali dan agak cepat, sampai terkadang saya bingung apa maksudnya, namun sedikit bisa memahami. Saya sok mengerti saja, sambil berpikir keras untuk menafsirkan.

Informasi pertama yang saya dapat adalah, tujuan ibu ini ke Cirebon. Kemudian ibu itu berisyarat kembali, saya agak kebingungan, mungkin dia menanyakan sesuatu ke saya. Saya sedikit menangkap, dia bertanya dari mana asal saya. Saya bilang saja secara lisan, "dari Depok Bu". Namun ibu itu tidak paham. Sampai dia menyuruh saya untuk buka notes di hp, untuk menulis jawabannya. Dari situ baru paham kalau si ibu sepertinya juga mengalami tuna rungu. Pembicaraan kami pun terus berlanjut. Terkadang saya menanggapinya hanya dengan menangguk dan tersenyum, sebenarnya tidak paham apa yang dimaksud dari si ibu, hehe maaf bu :). Sesenang itu saya ketika saya bisa menangkap apa yang ibu maksud, hehe norak. Danang dan Adan yang kebetulan kursinya ada diseberang lorong tengah gerbong pun terkadang diajak bicara. Tak jauh beda dengan saya, mereka menanggapinya dengan tersenyum. Entah mereka paham atau tidak :).

****

Dari puluhan keberangkatan kereta ekonomi AC ke Jogja pada hari itu, saya ditempatkan keberangkatan kereta pada jam satu siang. Dari sekitar tujuh gerbong dalam satu rangkaian kereta, saya menempati gerbong nomer lima. Dan dari puluhan nomer deret kursi, saya menempati nomer 14 A, tepat di depan ibu itu. Allah mempertemukan kami. Mungkin Allah ingin mengingatkan kepada saya untuk lebih bersyukur. Karena nikmat dari-Nya itu sederhana, tapi tak tergantikan. Sesederhana kita untuk bisa berbicara untuk bisa berkomunikasi. Mungkin Allah ingin saya untuk sadar, keterbatasan itu relatif. Relatif terhadap usaha manusia untuk melampauinya. Buktinya ibu itu, mungkin memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, tapi kegemarannya malah bersosialisasi. Saya meyakini bahwa semua kejadian pasti ada hikmahnya, termasuk pertemuan saya dengan ibu itu.

****

Saya melihat ke arah luar jendela di sebelah kiri saya, terdapat plang besar bertuliskan "STASIUN CIREBON PRUJAKAN". Ibu yang sedari tadi menunjuk-nunjuk jam tangannya, bergegas berdiri dan bersiap untuk turun. Sebelum beliau melangkah keluar, si ibu menumpahkan sejumlah permen mint ke meja kecil di sebelah kiri saya. "Untuk dimakan selama perjalanan," seraya ibu itu berkata dengan bahasa isyaratnya. Saya hanya tersenyum, berterima kasih. Ibu itu lalu melangkah pergi keluar.

"Bro, tadi  lo ngerti apa yang diomongin sama ibu itu?" Adan yang tadi juga diajak bicara sama ibu itu langsung bertanya ke saya dan Danang. "Haha, kadang paham, kadang nggak juga Dan," jawab saya.

Grek. Kereta pun langsung bergerak untuk melanjutkan delapan jam perjalanan yang tersisa menuju Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta.

Minggu, 08 Juli 2012

Mencari Negarawan untuk Negeri ini, Masih Adakah?

Mencari negarawan untuk negeri ini, masih adakah? Mungkin itu adalah pertanyaan setiap individu dari rakyat Indonesia yang hingga kini masih saja menunggu seseorang. Seseorang yang bisa menjadi figur perubahan dan panutan bagi negeri Indonesia ini. Mencari negarawan yang ideal mungkin bisa diibaratkan dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Atau bagaikan melihat semut hitam yang sedang berjalan di atas batu hitam di tengah pekatnya malam. Apa artinya itu? Ya, sangat sulit. Di tengah budaya dan praktik-praktik korupsi yang hampir mendarah daging di tubuh pemerintahan Indonesia, baik dari tingkat RT hingga tingkat kelas kakap seperti yang ada di Senayan sana. Mungkin kita akan menemukan beberapa yang masih berjalan dalam alur yang benar. Namun itu memang hanya beberapa dan tidak ada apa-apanya ketika menghadapi ribuan pihak yang telah memiliki "kelainan mental" dalam memerintah.
Tulisan saya ini mungkin belum bisa menjadi solusi dari permasalahan pelik di negeri kita ini dalam masalah kepemimpinan negara kita. Namun di sini saya mencoba mencari bagaimana sosok ideal seorang negarawan, ataupun seorang pemimpin. Konten dalam penulisan terinspirasi dari hasil focus group discussion yang saya ikuti pada kegiatan The Next Leader 2011, sekitar 6 bulan yang lalu.
Di sini ada tiga hal yang harus kita pahami. Intelektual, integritas, intimacy adalah tiga hal yang tak boleh terlewatkan dalam konsep mendapatkan sebuah negarawan yang ideal. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah negarawan memiliki intelektual yang memadai. Tanpa adanya intelektual, bagaimana mungkin seorang negarawan itu mampu membawa negaranya ke arah yang sesuai diharapkan. Hal kedua yang dibutuhkan oleh seorang negarawan adalah integritas. Integritas merupakan keselarasan antara nilai yang dianut dengan tindakan yang diperbuat oleh seseorang. Melakukan tindakan yang sesuai dengan nilai secara konsisten meskipun dalam melakukannya menemui tantangan yang berat merupakan hal yang dibutuhkan oleh seorang negarawan. Hal ketiga yang dibutuhkan oleh seorang negarawan adalah sikap intimacy, atau rasa memiliki terhadap suatu hal (sense of belonging). Adanya intimacy yang cukup kuat terhadap negara Indonesia, akan menumbuhkan rasa cinta yang begitu besar. Rasa cinta yang membuat seseorang akan melakukan hal apapun untuk memperbaiki negara ini ditengah rasa pesimis yang begitu deras kehadirannya di tengah-tengah masyarakat kita.
Ketiga hal diatas – intelektual, integritas, dan intimacy – tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hilangnya salah satu unsur yang dimiliki hanya akan menyebabkan kekacauan dan krisis dalam jiwa kepemimpinan yang dibutuhkan oleh seorang negarawan. Memiliki intelektual namun tidak memiliki integritas dan intimacy akan menciptakan pemimpin yang tamak akan kekuasaan dan tidak peduli terhadap rakyatnya. Bagaimana pula bila seorang negarawan memimpin negaranya tanpa intelektualitas, meskipun memiliki integritas dan intimacy. Kondisi tersebut hanya menghasilkan seorang pemimpin yang mudah untuk dipermainkan.
Agak normatif memang, apabila kita membicarakan bagaimana sosok seorang negarawan yang ideal. Tapi setidaknya kita mempunyai gambaran bagaimana sosok figur yang kita tunggu-tunggu bisa membawa perubahan. Atau mungkin diantara kita sebenarnya ada sosok figur yang sebenarnya dicari-cari rakyat Indonesia? Semoga saja.
Pilkada DKI Jakarta yang akan diadakan tanggal 11 Juli nanti merupakan pencarian masyarakat, khususnya Jakarta, terhadap seorang negarawan yang diharapkan mampu membawa ibukota negara ini ke kondisi yang lebih baik. Begitu juga halnya dengan pemilu capres 2014 nanti. Siapapun yang terpilih nanti sangat diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia bisa membawa perubahan negara ini ke arah yang lebih baik. Aamiin :)

Sabtu, 04 Februari 2012

That's Us

"Karena nanti ada beberapa yang nyusul, jadi liqo kita dimulai ba'da ashar aja di MUI." Begitulah kira-kira sms yang kuterima pagi hari ini, tepat pada jam 06:02 wib.  Sms dari mentorku, Bang Topan, yang merencanakan mentoring hari ini diadakan setelah sholat ashar. Sebelumnya kami sudah merencanakan mentoring akan diadakan pada jam satu siang. Tapi karena mayoritas dari kami baru bisa datang menyusul, maka Bang Topan memundurkan jam mentoring kami. Mentoring yang biasa kami lakukan setiap akhir pekan akhirnya bisa berjalan kembali, setelah seminggu yang lalu kami terpaksa meniadakan agenda mingguan kami ini karena adanya persiapan acara silakbar.

Setelah melakukan aktivitas seharian di rumah (tidur, nguras kamar mandi, tidur, dan tidur), aku terbangun tepat jam 3 sore dengan muka lusuh, rambut acak-acakan, dan iler belepotan (idiih). Aku beranjak ke depan laptop sambil santai-santai menunggu waktu ashar. Aku memang merencanakan untuk baru berangkat setelah sholat ashar di rumah. Barulah setelah menunaikan sholat ashar dan beres-beres, aku menuju masjid UI untuk mentoring.

Sekitar jam setengah lima sore akhirnya aku sampai di MUI. Di MUI ini banyak orang yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sholat, ada yang ngobrol-ngobrol, ada yang sekedar tidur-tiduran saja, ada yang rapat, ada pula yang mentoring seperti yang akan aku lakukan sekarang ini. Dari kejauhan aku telah melihat  sekelompok orang yang melingkar yang tampaknya aku kenal mereka. Langsung saja aku menuju mereka.

"Assalamualaikum," sapaku kepada mereka. Di sana sudah ada Bang Topan, Abel, Putra, dan Wahyu yang sedari tadi sepertinya telah ngobrol banyak hal. Kelihatannya aku datang paling terakhir kali ini. Setelah ngobrol-ngobrol sedikit, akhirnya kami memulai agenda kami hari ini.

Kegiatan mentoring kami biasanya urutannya seperti ini, diawali dengan pembukaan oleh mc. Yang kebetulan mendapatkan giliran menjadi mc pada pekan ini kebetulan adalah Abel. Dilanjutkan dengan tilawah, kemudian setoran hapalan, lalu kultum dari mc, materi dari Bang Topan, sesi tanya jawab, dan sesi qodhoya rowa'i. Tak ada yang berbeda pada mentoring kali ini. Tilawah kami seperti biasa satu orang mendapat jatah satu lembar. Setoran hapalan yang sudah lama kita tidak lakukan akhirnya ada lagi hari ini. Kultum dari Abel yang intinya kalau tidak salah seperti ini, kebahagiaan itu datangnya murni dari hati, semembahagiakan apapun hal yang kita dapat dari luar, tapi apabila hati kita keruh, kebahagiaan itu akan cepat sirna. Kemudian dilanjutkan materi dari Bang Topan sendiri yang menceritakan tentang kesuksesan Rasulullah sebagai pemimpin negara. Rasulullah memang merupakan contoh dari pemimpin yang sukses dari berbagai bidang, dari hal-hal yang kecil, sampai ke lingkup yang lebih besar.

Setelah sekitar empat puluh menit, sesi berlanjut ke sesi tanya jawab, setelah itu sesi qodhoya rowa'i. Di sesi qodhoya rowa'i ini, masing-masing dari kami curhat tentang kabar baik dan kabar buruk yang kami alami selama seminggu terakhir. Biasanya kalau sudah bingung tentang kabar apa yang aku dapat, aku akan menjawab "Kabar baiknya nggak ada kabar buruk, kabar buruknya nggak ada kabar baik," atau paling tidak aku menceritakan kegiatan akhir-akhir ini.

Tidak ada yang berbeda pada mentoring hari ini, sama seperti seminggu yang lalu, sama seperti sebulan yang lalu, dua bulang yang lalu, tiga bulan yang lalu, semuanya sama. Tapi disetiap akhir dari mentoring pasti aku selalu menemukan sebuah semangat baru, letupan semangat karena bertemu dengan teman-teman setelah melewati seminggu yang kadang melelahkan, kadang membosankan, kadang membahagiakan, dan lain sebagainya. Entah kenapa, bertemu dengan teman-teman, menceritakan hal-hal dalam seminggu, tertawa bersama, membagi kesenangan bersama, semuanya memberikanku sebuah dorongan baru dalam menjalani hidup.

Anggota kelompok kami sebenarnya ada beberapa orang lagi, namun sayangnya mereka tidak bisa datang hari ini. Semuanya memiliki kekhasannya masing-masing, Abel dengan kegalauannya, Putra dengan segala kehebohannya, Andi dengan keketuaannya, Ardam dengan keawwrrdamannya, Eka dengan kesibukannya (jadi gak dateng-dateng lagi :p), Wahyu dengan kewahyuannya, dan aku sendiri dengan kecoolannya (wkwkwk). Hahaha. Sebenarnya aku sendiri bingung apa kekhasan yang masing-masing kami, tapi yang jelas semua itu memberikan warna dalam kelompok ini. Warna-warna yang membuatku selalu mendapatkan tawa baru ditengah kesedihan, semangat baru ditengah kegalauan. Membuat mataku terasa lebih melek dari sebelumnya.

Aku yakin, dari kelompok ini akan lahir orang-orang besar, akan lahir orang-orang yang akan menciptakan sebuah peradaban yang lebih baik, akan lahir seorang ahli hukum yang bisa menegakkan hukum sebagaimana mestinya, akan lahir seorang pakar fisika tingkat dunia, akan lahir seorang auditor internal yang kompeten, akan lahir ahli peramu obat, akan lahir seorang sastrawan Inggris, akan lahir engineer-enginner muslim.

Sangat beruntung diriku dipertemukan oleh Allah teman-teman seperti mereka, teman-teman yang akan selalu ada disaat yang lain kesusahan, dan teman-teman yang akan selalu membagi kebahagiaannya. Ini bukan mengenai hubungan yang diikat dengan suatu profit sebagai ujungnya, ini bukan pula hubungan yang hanya menuntut pada kesenangan semata, tapi ini adalah hubungan yang akan ada terus, baik dalam senang maupun susah, hubungan yang insya Allah tak akan pernah lekang oleh perubahan waktu :).

Ana uhibbukum fillah :)