Jump High!: Tokyo Dome (2014)

Jump High!: Tokyo Dome (2014)
Jump High! Tokyo Dome - Japan (2014)

Minggu, 02 Februari 2014

Enam Perkara

Post ini diambil dari koran Republika, 30 Januari 2014

Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Asqalani dalam karyanya Nashaihul 'Ibad (Hal 42) mengutip sebuah hadis tentang keanehan yang akan menimpa umat Islam. Menurut Rasulullah SAW, jumlahnya ada enam perkara.

Pertama, masjid menjadi bangunan yang aneh. Bangunan masjid berdiri megah, dibangun di tengah-tengah perkampungan penduduknya. Namun, para penduduk di perkampungan tersebut enggan untuk mendatangi masjid tersebut.

Kedua, mushaf Alquran menjadi sebuah perkara aneh. Orang-orang berlomba-lomba mengoleksi Alquran di rumahnya. Mereka membeli Alquran dengan model terbaru, berharga mahal, namun setelah di rumah, Alquran hanya menjadi simbol kebanggaan. Alquran hanya menjadi pajangan, jarang dibaca, apalagi untuk memahami maknanya.

Ketiga, banyak orang berlomba-lomba menghafal Alquran, tapi sedikit sekali orang yang berlomba-lomba mengamalkan isi dan kandungannya.

Keempat, banyak wanita salihah yang menikahi laki-laki yang tidak taat dalam melaksanakan ajaran agama.

Kelima, banyak laki-laki saleh yang beristri wanita yang tidak taat beragama.

Keenam, aneh sekali, orang alim (yang memahami ilmu agama) berada di tengah-tengah masyarakat, namun masyarakat sudah tidak mau lagi mendengar fatwa-fatwanya.

Sementara Imam Ghazali dalam karyanya Minhajul 'Abidin mengutip sabda Rasulullah yang disampaikan kepada Haris Ibnu Umairah.

"Jika umurmu panjang, kamu akan menghadapi suatu zaman yang aneh. Pada zaman itu akan banyak ahli pidato yang piawai dalam menyampaikan pidatonya, namun sangat sedikit sekali dari kalangan mereka yang benar-benar ulama (memahami ilmu agama dan hatinya takut pada Allah). Pada zaman tersebut akan banyak sekali orang yang memerlukan bantuan (banyak orang miskin), namun sangat sedikit sekali orang yang mau menolong mereka, dan pada zaman tersebut keikhlasan mencari ilmu sudah sirna. Orang-orang mencari ilmu hanya mengikuti keinginan hawa nafsu belaka."

Haris Ibnu 'Umairah merasa heran, kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, kapan hal tersebut akan terjadi?" Kemudian Rasulullah menjawab, "Nanti apabila ibadah shalat telah dimatikan (orang-orang tidak mengaplikasikan nilai-nilai ibadah shalat dalam kehidupan sehari-hari), menjamurnya suap-menyuap (jual beli hukum dan jabatan), serta orang-orang telah rela menjual agama demi kesenangan hidup di dunia semata. Jika keadaan tersebut sudah terjadi, maka selamatkanlah dirimu."

Semoga bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua. Sudahkah ini terjadi di lingkungan sekitar kita?


Sabtu, 01 Februari 2014

Cerita Gerbong: Bahasa tanpa Kata

Sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya sekitar awal bulan Januari, saya bersama teman-teman kuliah saya mendapat kesempatan untuk melancong ke kotanya Sri Sultan Hamengkubuwono X, Jogjakarta. Travelling kali ini memang sengaja dibuat sama temen-temen untuk refreshing dan menjadi semacam "perpisahan" kita setelah kepengurusan satu tahun di BEM FEUI. Yap, kami sempat bersama selama satu tahun ketika menjabat sebagai bph pada tahun 2013 lalu, jadi gak sah kalo berpisah tanpa perpisahan hehe. Awalnya saya kira rencana ini cuma jadi wacana, tak disangka kami ber-25 jadi juga melancong ke Jogja! :)

Kami berangkat ke Jogja berangkat menggunakan kereta ekonomi AC, begitu juga nanti ketika pulangnya. Ala "backpacker", ceritanya, tapi kami malah mengalami sedikit kehebohan ketika sudah memasuki gerbong kereta. Nomer tempat duduk di tiket kami mengacak, bercampur baru dengan penumpang yang lain, bahkan ada yang terpisah di gerbong lain. Maka ekspektasi kami pun sedikit meleset, yang awalnya ingin barengan ketika perjalanan, harus siap berbagi kursi dengan penumpang yang lain. Ditambah lagi kursi kereta ekonomi AC yang saling berhadap-hadapan. Masih untung ada yang berdua atau bertiga, tapi ada teman saya, Adan dan Danang, mereka harus terpisah sendiri di tempat mereka masing-masing dan bergabung dengan sebuah keluarga yang tidak mereka kenal. Bersiap untuk 12 jam awkward momment, selamat menggunakan skill bersosialisasi! :D

Sementara saya sendiri berhadapan dengan dua orang, yang awalnya saya kira pasangan suami istri, ternyata setelah saya perhatikan lebih lanjut ternyata bukan. Disebelah kanan saya kosong, mungkin tempat duduk itu sebenarnya untuk teman saya yang tidak jadi ikut ke Jogja, makanya tidak ada yang menempati. Setelah kereta mulai berjalan, akhirnya Danang pindah tempat duduk di sebelah saya, mungkin takut diadopsi sama keluarga yang duduk bareng sama dia ya, haha.

****

Sempat saya perhatikan dua orang di depan saya, seorang ibu dan seorang bapak, mereka bukan pasangan suami istri. Mereka juga seperti kami, harus berbaur dan berbagi dengan orang yang baru ditemui di atas gerbong. Si Bapak terlihat cuek, dan tidak terlalu peduli dengan orang yang ada dihadapannya dan disebelahnya. Sementara ibu yang ada di depan saya terlihat lebih ramah dan lebih senang mengajak bicara orang yang ada disekitarnya. Terkadang ibu tersebut menawarkan permen ke kami, terkadang pula dia sering menggunakan hpnya untuk menghubungi seseorang (mungkin keluarganya), dengan bahasa isyarat. Belum pernah sebelumnya saya bertemu langsung dengan orang yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat lewat hp, jadi cukup menyita perhatian saya ke ibu itu.

Selama perjalanan, saya tidak terlalu tertarik untuk mengajak ngobrol ibu dan bapak yang ada di depan saya. Beberapa jam di awal saya habiskan dengan tidur. Bangun-bangun, kanan kiri saya sudah ada hamparan sawah membentang. Lumayan, pemandangan bagus setelah terbangun dari tidur :). Mungkin, melihat saya yang sudah bangun dan sedang tidak ada kerjaan, si ibu yang ada di depan saya mengajak ngobrol saya, dengan bahasa isyarat. Awalnya saya pikir ibu itu memiliki saudara yang mengalami keterbatasan dalam pendengaran, tapi menyadari saya diajak berbicara dengan bahasa isyarat, saya baru sadar ibu itu yang menderita tuna wicara. Entah, beliau mengalami tuna rungu juga atau tidak, karena setau saya kalau orang yang mengalami tunga rungu sejak lama, secara otomatis dia mengalami tuna wicara juga *CMIIW*.

Oke, saya pun diajak bicara sama beliau. Perlahan mencoba memahami apa yang ia maksud. Danang yang berada disebelah saya pun memperhatikan. Si ibu "berbicara" banyak sekali dan agak cepat, sampai terkadang saya bingung apa maksudnya, namun sedikit bisa memahami. Saya sok mengerti saja, sambil berpikir keras untuk menafsirkan.

Informasi pertama yang saya dapat adalah, tujuan ibu ini ke Cirebon. Kemudian ibu itu berisyarat kembali, saya agak kebingungan, mungkin dia menanyakan sesuatu ke saya. Saya sedikit menangkap, dia bertanya dari mana asal saya. Saya bilang saja secara lisan, "dari Depok Bu". Namun ibu itu tidak paham. Sampai dia menyuruh saya untuk buka notes di hp, untuk menulis jawabannya. Dari situ baru paham kalau si ibu sepertinya juga mengalami tuna rungu. Pembicaraan kami pun terus berlanjut. Terkadang saya menanggapinya hanya dengan menangguk dan tersenyum, sebenarnya tidak paham apa yang dimaksud dari si ibu, hehe maaf bu :). Sesenang itu saya ketika saya bisa menangkap apa yang ibu maksud, hehe norak. Danang dan Adan yang kebetulan kursinya ada diseberang lorong tengah gerbong pun terkadang diajak bicara. Tak jauh beda dengan saya, mereka menanggapinya dengan tersenyum. Entah mereka paham atau tidak :).

****

Dari puluhan keberangkatan kereta ekonomi AC ke Jogja pada hari itu, saya ditempatkan keberangkatan kereta pada jam satu siang. Dari sekitar tujuh gerbong dalam satu rangkaian kereta, saya menempati gerbong nomer lima. Dan dari puluhan nomer deret kursi, saya menempati nomer 14 A, tepat di depan ibu itu. Allah mempertemukan kami. Mungkin Allah ingin mengingatkan kepada saya untuk lebih bersyukur. Karena nikmat dari-Nya itu sederhana, tapi tak tergantikan. Sesederhana kita untuk bisa berbicara untuk bisa berkomunikasi. Mungkin Allah ingin saya untuk sadar, keterbatasan itu relatif. Relatif terhadap usaha manusia untuk melampauinya. Buktinya ibu itu, mungkin memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, tapi kegemarannya malah bersosialisasi. Saya meyakini bahwa semua kejadian pasti ada hikmahnya, termasuk pertemuan saya dengan ibu itu.

****

Saya melihat ke arah luar jendela di sebelah kiri saya, terdapat plang besar bertuliskan "STASIUN CIREBON PRUJAKAN". Ibu yang sedari tadi menunjuk-nunjuk jam tangannya, bergegas berdiri dan bersiap untuk turun. Sebelum beliau melangkah keluar, si ibu menumpahkan sejumlah permen mint ke meja kecil di sebelah kiri saya. "Untuk dimakan selama perjalanan," seraya ibu itu berkata dengan bahasa isyaratnya. Saya hanya tersenyum, berterima kasih. Ibu itu lalu melangkah pergi keluar.

"Bro, tadi  lo ngerti apa yang diomongin sama ibu itu?" Adan yang tadi juga diajak bicara sama ibu itu langsung bertanya ke saya dan Danang. "Haha, kadang paham, kadang nggak juga Dan," jawab saya.

Grek. Kereta pun langsung bergerak untuk melanjutkan delapan jam perjalanan yang tersisa menuju Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta.

Selasa, 28 Januari 2014

Buku: Gagalnya Pembangunan, Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru

Di liburan semester ini saya tertarik dengan sebuah buku karangan salah satu dosen FISIP yang juga koordinator tim Visi Indonesia 2033, Andrinof A. Chaniago.

****
Sekitar seminggu yang lalu saya sempet bela-belain untuk bolak-balik ke perpustakaan pusat UI dan perpustakaan FE untuk mencari buku ini. Di perpustakaan FE fix buku ini gak ada. Sementara di katalog perpusat UI menyebutkan buku ini tersedia. Sampai saya cari-cari bolak-balik tetep akhirnya tidak ketemu. Akhirnya saya menyerah, dan terpaksa beli di toko buku. Alhamdulillah ada bukunya :)
****
Cetakan pertama buku ini adalah tahun 2001, tapi menurut saya buku ini masih tepat untuk kita yang ingin mengetahui kenapa negeri kita bisa menjadi seperti sekarang. Paradigma pembangunan Indonesia yang diciptakan selama 32 tahun pada rezim orde baru, terutama apa yang terjadi pada 10 tahun terakhir sebelum tahun 1997 - Pak Andrinof menyebutnya sebagai episode hyper-pragmatis - yang ternyata menciptakan Indonesia menjadi negara terparah di Asia yang mengalami dampak krisis pada tahun 1997 tersebut. Dan menurut pengamatan kasat mata saya, efek dari masa pembangunan hyper-pragmatis tersebut masih terus berlanjut dan menyisakan pekerjaan rumah yang belum selesai hingga saat ini.

Sebuah kutipan dari Soekarno yang cukup terkenal, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah", saya rasa benar adanya. Melalui buku ini, kita diajak untuk mereka ulang masa lalu dan mengetahui apa akar dari masalahnya. Pasalnya, Indonesia sampai saat ini masih terjebak dengan lingkaran setan pembangunan. Pembangunan yang masih Jawa sentris, pembangunan ekonomi dan infrastruktur di Indonesia bagian timur yang masih tertinggal, separatisme, dan masih banyak masalah-masalah klasik peninggalan orde baru.

Melalui buku ini, kita belajar dari masa lalu, agar bisa menghindari terjadinya krisis Indonesia bagian kedua. Jangan sampai negeri ini menjadi negeri keledai. Negeri yang jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Satu Setengah

Alhamdulillah, tadi sore untuk kesekian kalinya FE membuka registrasi akademik online untuk para mahasiswanya dan bisa saya bilang regol saya kali ini cukup berhasil. Dari enam kelas yang saya daftarkan, tidak satu pun yang bermasalah waiting list. Beda dengan regol semester lalu, lima dari enam kelas masuk daftar waiting list :") Tentu dengan dibukanya pendaftaran akademik ini berarti tidak lama lagi akan menghadapi semester baru (lagi), semester enam.

Pertanyaan paling khas di kampus ketika awal tahun seperti ini, terutama buat yang biasa aktif di kegiatan kemahasiswaan entah itu organisasi atau kepanitiaan, seringkali ditanyakan, "tahun ini mau ke mana?", atau "mau lanjut apa tahun ini?", dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya. Pada akhirnya, dari semua pertanyaan ini membentuk sebuah paradoks pemikiran, yang diawali dengan sebuah pemikiran tentang pilihan-pilihan, dan yang berujung pada sesuatu yang jauh di depan sana, tujuan hidup.

Tujuan hidup, mungkin bagi sebagian orang hal ini menjadi sesuatu yang diletakkan paling belakang dalam pikirannya. "Nanti saja lah, toh masih lama". Entah, saya berpendapat kalau mayoritas manusia Indonesia dibiasakan untuk menjadi pribadi yang reaktif, tanpa perencanaan. Mungkin statement ini hanya berdasarkan pengamatan kasat mata saya selama ini saja. But, it's really happen around me. Di pendidikan, kita mengenal dengan fenomena belajar sks (sistem kebut semalam) ketika menghadapi ujian. Dari jenjang SD sampai pada jenjang Perguruan Tinggi kita akan menemukan fenomena ini, meskipun tidak semua. Kalau kita melihat dengan scoop yang lebih luas lagi, dengan kacamata Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana terlalu reaktifnya kita. Sebagai contoh, pembuatan MP3EI (Master Plan Pengembangan dan Perluasan Ekonomi Indonesia), kalau teman-teman tahu ternyata merupakan sebuah tindakan reaktif akibat kekalahan persaingan Indonesia dari Cina dalam ACFTA. Atau ketika salah satu lagu daerah kita "dipatenkan" oleh negeri tetangga, kita kelabakan menghadapinya. Reactive, too reactive.

Melihat kenyataan ini, pasti membuat kita berkaca dan bertanya, "apakah kita seperti itu?". Saya mengakui, kehidupan saya didominasi dengan tindakan reaktif seperti itu. Seperti tak terasa sama sekali, saya sudah 2,5 tahun kuliah di FEUI. Rasanya baru kemarin mengikuti OPK (ospek FE), baru kemarin saya menyanyikan lagu wisuda untuk kakak-kakak wisudawan tahun 2011. Dan sekarang menginjak semester enam. Sudah menjadi senior. Beberapa teman juga sudah menjadi pejabat kampus. Secepat itu waktu berlalu.
****
Terkadang kita dibuat tidak percaya dengan kisah-kisah Islam zaman dulu. Sultan Muhammad Al Fatih, pemimpin penaklukan Konstantinopel di umur 21 tahun. Really? Itu seumuran kita yang sedang kuliah. Masih terlalu jauh dari pikiran memimpin sebuah penaklukan negara. Tapi kisah Muhammad Al Fatih bukan dongeng sebelum tidur. Ini kisah nyata. Dan memang sudah seharusnya kita menjadi dewasa terhitung pada saat kita menyentuh usia akil baligh.
****
Satu setengah tahun lagi di FE, dan kita ingin menjadi apa? Satu setengah tahun lagi kita lulus. Lepas dari status mahasiswa. Menyandang gelar sarjana. Menyambut dunia kerja atau sebagian melanjutkan S2 atau sebagian lagi memilih untuk langsung menikah. Dan seterusnya. Terlalu cepat? Mungkin bisa begitu bisa juga sudah cukup. Semua ini memaksa saya pada akhirnya untuk berpikir apa tujuan hidup saya? Apa rencana yang akan saya buat ke depan?

Yang saya pahami, ketika kita ditakdirkan untuk menjadi dari bagian kampus ini, berarti Tuhan percaya pada diri kita bahwa kita akan menjadi orang besar. Satu setengah tahun terakhir di FEUI jangan sampai kita lalui sekedarnya tanpa tujuan apa-apa. Satu setengah tahun terakhir harus direncanakan dan dijalankan dengan luar biasa. Karena ini menjadi bagian-bagian dari langkah kita ke depan.

Majunya waktu merupakan sebuah keniscayaan. Bukan itu masalahnya. Tapi bagaimana kita bisa mengisi setiap detik waktu yang terus berjalan menjadi tantangan buat kita.

Malam :)


Jumat, 24 Januari 2014

Ini Bukan tentang Apa itu Kita, tapi tentang Bagaimana isi Kita

Again I will say, long time no see blog!

Last post yang saya lihat sebelum post ini tepat pada tanggal 13 Oktober 2012, hmm sudah setahun lewat dua setengah bulan saya "menonaktifkan" blog ini. Bukan berhenti menulis di blog seperti ini (walaupun tetap jarang nulis hehe), tapi saya sempat mencoba beralih ke blog lain. Saya mencoba untuk bergabung di tumblr (my tumblr link: agiananta.tumblr.com). Mengapa? Ya, saya merasa di blogger ini cukup sepi, karena interaksi antar pengguna blog kurang terasa. Dengan ikut Tumblr, saya mengharapkan lebih banyak interaksi yang terjadi di blog saya, lebih ramai lah sederhananya. Apa itu Tumblr? Sama seperti jenis-jenis blog lainnya. Tapi bedanya di sini Tumblr merupakan fusion antara twitter dan blog. So, emang terbukti interaksi di Tumblr terlihat lebih aktif, kita bisa "me-reblog" post dari account yang kita follow (seperti di twitter). And that's it.

Tahun 2013 tercatat saya sempat 66 kali mempost (wow cukup banyak :O), tapi ke-66 post itu tidak murni seluruhnya adalah tulisan saya. Ada yang merupakan reblog dari post account lain, atau mayoritas seperti itu ya? Hehe. Nah, di sini saya menemukan ketidakpuasan batin dalam "berblog ria". Ada suatu kepuasan tersendiri ketika tulisan kita dipublish, meskipun hanya di blog sendiri. Iya, tulisan sendiri. Bukan reblog.

So, I get the point here..

Sempat gonta-ganti blog dengan tujuan mendapatkan interaksi yang lebih banyak, tapi kok sense nulis jadi berkurang ya? Mau seperti blog teman-teman yang lain, yang rajin posting di blognya, tapi kok ngerasa sama aja ketika di blogger? Karena permasalahan bukan hadir dari apa blog yang kita gunakan, tapi bagaimana kita sendiri yang berkeinginan untuk menulis. Kalau sense nulisnya dari awal memang sudah kurang, jangan harap rame tuh blog hehe :)

Nah, ayo kita mulai kembali perjalanan menulis kita. Niatkan, menulis itu bukan untuk sekedar keren-kerenan saja. Tapi dengan menulis kita bisa berbagi, dengan menulis kita bisa menyebar inspirasi :)

Ayo menulis (re: blogging)! :)

Sabtu, 13 Oktober 2012

Run! Till the Finish Line...

Langsung di play saja ya :)



"I don't stop when I'm tired. I stop when I'm done" - Marilyn Monroe

Kamis, 04 Oktober 2012

Beranilah

Beranilah. Berani menembus batas. Berani untuk menghancurkan tembok ketakutan. Berani untuk menembus hutan kemalasan. Berani untuk sedikit melebihkan usaha atas yang lain. Berani membuat diri ini sedikit kelelahan. Berani, berani, berani. Buat diri ini sedikit lebih berani.

Semua orang pasti mempunyai mimpi, punya cita-cita dalam hidup mereka. Termasuk juga dengan saya yang mempunyai sejumlah pengharapan yang ingin saya tuju. Memperoleh yang terbaik dalam akademis, mendapatkan kesempatan untuk bisa exchange ke luar negeri, melanjutkan studi saya ke negeri eropa, mengikuti berbagai kompetisi. Mungkin itu sedikit dari keinginan saya, dan mungkin juga dimiliki oleh orang lain.

Mungkin tujuan bisa sama, tapi usaha dan doa adalah dua hal pembeda yang satu dengan lainnya. Setidaknya usaha untuk berani untuk mencoba, yang mungkin tidak semua orang memilikinya. Mereka yang tidak berani mencoba, hanya bisa tenggelam dalam kenyamanan mimpinya.

Sebuah obrolan di siang hari, beberapa hari yang lalu. Ketika saya sedang duduk santai di depan ruang bem. Di sana pula ada seorang teman saya yang sedang seru dengan laptopnya. Entah ada angin apa, saya tiba-tiba bertanya kepadanya.

"Wann, gue sebenernya pengen nih, ikut kegiatan-kegiatan confrence ke luar negeri. Tapi gue rasanya kok minder ya sama kemampuan bahasa inggris gue?"

"Nah..," teman saya langsung menyaut. "Yang penting berani Gi."

"Mmmmm..," kata saya mencoba mulai mendengarkan.

"Gue punya banyak keterbatasan Gi. Gue punya keterbatasan dalam hal modal, dan dalam hal bahasa inggris pun gue gak terlalu bagus. Tapi gue punya satu hal, gue berani. Yang penting berani Gi."

Sedikit kutipan obrolan saya dengan teman saya, Muhammad Mulyawan Tuankotta, yang biasa dipanggil Wann. Akuntansi UI 2011. Anak rantauan dari timur Indonesia. Dan sedang giat-giatnya mengikuti kegiatan konfrensi mahasiswa.

Kepada mereka yang berani. Kepada mereka yang berani menembus batas diri mereka. Kepada mereka yang melebihkan sedikit usaha atas yang lain. Kepada mereka yang rela membuat diri mereka sedikit lebih kelelahan. Insya Allah, Allah akan menunjukkan jalannya...

Just a morning thought :)